RINALDI SUPRIADI
1106158
PENDIDIKAN BAHASA ARAB
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Karakter pemimpin yang ideal
Dikutip
dalam sebuah hadist Nabi Muhammad SAW, yang bersabda : “كلّكم
راء و كلّ راء مسئول عن رعيّته”
yang berarti setia orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin dipertanyakan kepemimpinan
nya. Jadi memiliki sifat kepimimpinan adalah hal yang manusiawi, setiap orang
punya hak untuk menjadi pemimpin tak ada yang bisa melarang itu, baik
kepemimpinan secara individu ataupun secara sosial. Tapi yang perlu kita
ketahui sebagai manusia bagaimana mengapresiasikan kepimimpinan tersebut agar
bisa dipandang sebagai pemimpin yang ideal.
Coba
kamu tebak apa arti kepemimpinan ? kebanyakan orang melihat kepemimpinan adalah
kedudukan atau posisi semata. Akibatnya, banyak orang yang ngejar untuk jadi
seorang pemimpimpin dengan menghalalkan segala cara. Sebagai contoh :
“Disebuah
universitas sedang terjadi pemilihan presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Aldi ikut bersaing untuk memperoleh jabatan bergengsi itu. Aldi sangat ingin menjadi presiden BEM karena
dengan jabatan ia berharap akan menjadi orang yang disenangi
perempuan-perempuan, popular, dan disegani. Ia menggunakan berbagai cara untuk
memperoleh jabatan tersebut. Dari mulai menteraktir teman-temannyamakan,
jelek-jelekin pesaingnya sampai ngejilat dan carmuk alias cari muka sama
teman-temannya. Akhirnya ia terpilih menjadi ketua BEM universitas”.
Bagaimana
menurutmu hasil dari kepemimpinannya ? ternyata pemimpin seperti Aldi
menggunakan kekuasaannya untuk menguasai orang lain agar mereka mengikutinya.
Jenis pemimpin seperti itu lebih sering berbuat seenaknya, hingga akhirnya ia
tidak dicintai, tidak disegani, tidak ditaati bahkan banyak yang akan
memusuhinya.
Gaya
kepemimpinan yang melanggar ketentuan Tuhan yang Maha Esa (sunnatullah) hanya
akan menghasilkan kehancuran dan permusuhan.
Semua
kata dan sikap manusia akan menentukan apakah ia pantas atau tidak menjadi
pemimpin bagi orang lain. Jika menjadi seorang pemimpin, pengaruh yang dibuat
tergantung prinsip yang dianut. Begitu juga sebaliknya, linkungan bisa membuat
orang menjadi pengikut disadari atau tidak. Jika seseorang tidak mempunyai
prinsip maka akan sangat mudah terpengaru oleh lingkungan. Disekeliling kita
banyak contoh pemimpin dengan tipikal, gaya dan prinsip yang berbeda. Ada
pemimpin yang pintar tapi tidak dicintai oleh lingkungannya.
Tingkat
keberhasilan seseorang ditentukan oleh
seberapa tinggi tingkat kepemimpinannya. Tingkat kepemimpina seseorang juga
ditentukan oleh seberapa besar dan seberapa jauh tingkat pengaruh yang ia buat.
Oleh karena itu ada lima tangga kepemimpina yang ideal dimana setiap tangga
mencakup semua hal secara sistematis, dan prasyarat utama. Dengan melalui lima
tangga kepemimpina tersebut diharapkan semua masalah kepemimpinan bisa
terantisipasi.
Lima tangga
kepemimpina yang ideal iti ialah :
Pemimpin tingkat
1 : Pemimpin yang dicintai
Pemimpin tingkat
2 : Pemimpin yang Dipercaya
Pemimpin tingkat
3 : Pembimbing
Pemimpin tingkat
4 : Pemimpin yang berkrepibadian
Pemimpin tingkat
5 : Pemimpin yang Abadi
1.
Pemimpin tingkat 1 :
Pemimpin yang Dicintai
Seseorang bisa mencintai orang lain tanpa memimpin mereka,
tetapi ia tidak bisa memipin orang lain tanpa mencintai mereka. Pernyataan ini
menggambarkan bagaimana seorang pemimpin harus mampu berhubungan baik dengan
orang lain. Seorang pemimpin tidak hanya bisa menunjukan prestasi kerjanya
saja, tapi ia harus mencintai dan dicintai orang lain. Tangga ini tidak boleh
diloncat, jika diloncati maka orang lain tidak akan mendukungmu, karena mereka
tida menyukainya. Contoh seorang pemimpim seperti itu adalah Nabi Muhammda SAW,
beliau adalah pemimpin yang dicintai umatnya dan mencintai umatnya
2.
Pemimpin tingkat 2 :
Pemimpin yang Dipercaya
Seseorang yang mempunyai integritas tinggi adalah orang yang
penuh keberaniandan berusaha tanpa kenal putus asa meraih apa yang
dicita-citakannya. Cita-cita yang dimilikinya mampu mendorong dirinya untuk
tetap konsisten dengan langkahnya. Saat seseorang mencapai tingkat ini, maka
orang lain akan melihat bagaimana komitmennya, hingga mereka akan menilai untuk
mengikutinya atau tidak ?
Integritas
akan membuat seseorang dipercaya, dan dan kepercayaan ini akan membuahkan
pengikut. Kemudia akan tercipta kelompok yang mempunyai satu tujuan. Inilah
tangga kedua kepemimpinan yang ideal. Setelah mencapai landsan sebagai pemimpin
yang dicintai, ,aka tingkat kedua adalah integritas yang menciptakan
kepercayaan.
3.
Pemimpin tingkat 3 :
Pembimbing
Pemimpin yang berhasil bukanlah dinilai dari luasnya
kekuasaan yang dimiliki, tapi lebih karena kemampuannya member motivasi dan
kekuatan kepada orang lain. Seseorang bisa dikatakan gagal jika tidak memiliki
penerus. Pada tangga inilah puncak loyalitas penerusnya akan terbentuk.
4.
Pemimpin tingkat 4 :
Pemimpin yang berkepribadian
Haryry S. Truman pernah berkata, “ Disiplin pribadi (diri
sendiri) adalah suatu hal yang datang lebih dulu, pemimpin tidak akan pernah
bisa memimpin orang lain jika dia belum berhasil memimpin dirinya sendiri.
Pemimpin harus mampu dan berhasil menjelajahi dirinya sendiri; mengenal secara mendalam
siapa diri sebenarnya. Sebelum dia memimpin keluar, dia harus lebih dulu
memimpin kedalam”.
5.
Pemimpin tingkat 5 :
Pemimpin yang Abadi
Ajaran Nabi Muhammad SAW mencakup intelektual, emosional, dan
spiritual. Prinsipnya adalah mengarahkan orang kepada kebenaran, kebaikan,
kemajuan dan keberhasilan. Metodenya adalah metode terbaik yang pernah ada
dimuka bumi, khususnya dibidang kepemimpinan dan akhlak.
Semua
terasa sesuai dengan suara hati; cocok dengan martabat kehormatan manusia;
sekaligus membersihkan belenggu yang bisa membuat orang jadi buta, hingga
sesungguhnya title mahaguru dari kecerdasan emosi yang saat ini diakui lebih
[enting dari IQ atau kecerdasan otak,
Disematkan
kepada Rasulullah SAW .inilah yang disebut kepemimpinan abadi.
Seperti
itulah tangga-tangga kepemimpinan yang ideal dan semuanya telah tersematkan
oleh Nabi Muhammad SAW, kita patut mencontoh kepemimpinan beliau karena suada
tidak diragukan lagi. Semoga kita menjadi pemimpin ideal yang dinginkan bangsa.